..:::SMA Negeri 2 Pati:::..

CERITA HARI SABTU [Disa Amorahajeng/X-6/12]

Email Cetak PDF

“Kriiiiiing…!!!” bel berbunyi.

Seketika murid-murid SMA Pelita Jaya memasuki kelas masing-masing. Murid-murid yang memasuki gerbang tergopoh-gopoh memasuki kelas mereka. Pak Satpam sudah mulai menutup gerbang.

Dari kejauhan terlihat seorang siswi berlari terburu-buru menuju gerbang. Gadis mungil dan manis itu terlihat panik, pantas saja karena Pak Satpam sudah menutup pintu gerbang.

“Pak..pleaseeee..bukain gerbangnyaaa…”, pinta gadis itu.

“Kamu ? Kamu lagi kamu lagi. Saya heran kenapa kamu telat selalu di hari Sabtu. Minggu lalu telat juga di hari Sabtu, minggu-minggu yang lalu juga kayak gitu. Kenapa sih? Sudah ah, saya nggak mau bukain gerbang ”, omelan Pak Satpam.

“Yaelah Pak. Apa susahnya sih pak bukain gerbang? Lagi pula saya kan telatnya cuma hari Sabtu, dan telatnya juga baru 5 menit. Ini yang terakhir deh pak… ya?? Pleaseeee. Biar saya juga bisa ikut ulangan kimia jam pertama. Bapak nggak kasihan sama saya ? Please paaaaak ”, gadis itu tetap merayu dengan tampang memelas.

 

Akhirnya pak satpam luluh juga dan membiarkan gadis itu masuk. “Ya sudah. Ini yang terakhir. Karena kamu ulangan jam pertama, saya tidak memberimu surat untuk dibawa ke BP. Sana masuk kelas !”

 

“Yes!! Makasih ya Pak. Permisi”, ujar gadis itu sambil nyengir.

Cepat-cepat dia menuju ke kelasnya, XII IPA 1, sambil tergopoh-gopoh.

Tok..tok… Dia mengetuk pintu.

Bu Asih dan penghuni kelas langsung memalingkan pandangan ke arah pintu. “Ufa ? Kenapa baru datang ?”, tanya Bu Asih.

“Maaf, Bu. Saya terlambat”, ujar gadis itu yang ternyata bernama Ufa sambil menunduk.

“Ya sudah. Saya tidak akan tanya kenapa kamu selalu telat di pelajaran saya pada hari Sabtu, karena kamu pasti tak mau memberi tahu saya alasannya seperti biasanya. Sudah, kamu ambil kertas ulangan dan cepat menulis soal yang ada di papan tulis.”

Ufa duduk dan mengambil kertas. Tania, teman sebangkunya langsung berujar. “Dasar..telat lagi telat lagi. Untung Bu Asih baik dan sudah memaklumi ketelatanmu yang selalu di hari Sabtu.” Dan Ufa hanya menjawab dengan cengirannya.

 

Ulangan berlangsung dan pelajaran sampai jam terakhir….

 

“Kriiiing”, bel pertanda pulang pun akhirnya berbunyi.

Kebiasaan anak-anak SMA Pelita Jaya bukanlah langsung pulang, biasanya mereka jalan-jalan di mall, makan di kantin sekolah, atau sekedar ngrumpi di kelas. Ufa, Tania, Karin, Ega, Raffi dan Rizki adalah sekelompok sahabat dari kelas 2 SMP, kemana-mana bersama, dan sudah 5 tahun mereka satu kelas. Pulang sekolah kali ini mereka hanya makan di kantin.

“Eh, nanti malam hang out yuk. Udah lama kan kita nggak kumpul bareng pas malam minggu”, ujar Ega.

“Iya, kalaupun kumpul pasti nggak lengkap. Pengen nonton nih, ada film komedi baru. Pada mau, kan ?” Karin menimpali.

“Aku nggak ikut”, jawab Ufa singkat.

“Kenapa? Tiap kita ajak malam mingguan pasti nggak mau. Emang kamu ada acara lain?”, tanya Tania penasaran.

“Maaf ya teman-teman. Tapi aku memang nggak bisa. Eh, sudah dulu ya. Aku pulang dulu, ada urusan penting. Skali lagi maaf ya”, pamit Ufa setelah cepat-cepat menghabiskan baksonya.

“Sepertinya ada yang aneh dengan Ufa”, sangsi Rizki.

“Iya, dia seperti menghindar dari kita dan itu terjadi setiap hari Sabtu. Ada apa ya?”, Raffi ikut bertanya-tanya.

“Seperti menyembunyikan sesuatu dari kita. Hmmm… Aku punya ide. Gimana kalau kita mata-matain dia”? usul Tania.

“Mata-matain ? Caranya?” tanya yang lain.

Mereka pun memusyawarahkan rencana untuk memata-matai Ufa. Tugas di bagi dan beraksilah mereka pada malam minggu itu pukul 7 malam berkumpul di rumah Tania.

Semua sudah siap . Karin dan Rizki akan melihat gerak gerik Ufa dari rumahnya. Tania dan Raffi bertugas mengikuti dengan mengendarai mobil, dan mereka telah bersiap-siap di ujung gang rumah Ufa. Riaffi, bertugas di season akhir untuk merekam Ufa, tak lupa dia membawa handycam kecil nya.

Karin dan Rizki bersembunyi di semak-semak dekat pagar rumah Ufa. Rumah Ufa terlihat sepi, lampu ruang tamu juga padam, padahal biasanya pintu rumah selalu terbuka dan lampu ruang tamu selalu menyala. Sepertinya orang tuanya tidak ada di rumah, hanya Bon-bon, kucing peliharaannnya yang sedang tidur si teras. Lama Karin dan Rizki menunggu, dan mereka melihat Ufa keluar dari pintu samping lalu duduk di kursi teras.

Rizki bergeming, “Dia seperti menunggu sesuatu. Lihat saja, penampilannya beda. Mau pergi kemana dia?”.

“Iya, jarang sekali dia memakai rok mini seperti itu. Benar-benar mencurigakan. Eh ada mobil datang, jangan sampai terlihat! ”. Karin sedikit panik.

Mobil sedan hitam memasuki pagar rumah Ufa. Tampak sosok laki-laki tinggi, berkulit putih, turun dari mobil itu. Dia berkata kepada Ufa tentang sesuatu, lalu Ufa masuk ke dalam mobil itu. Karin dan Rizki langsung menganggap itu bukan ayah Ufa, terlebih lagi mobil Ufa Panther merah dan bukan sedan hitam. Mereka berdua langsung mengambil kesimpulan bahwa laki-laki itu adalah “Om –om”.

Mobil sedan keluar dari pagar, dan menuju ke gang dimana Tania dan Ega menunggu. Karin langsung menelepon dan memberitahu Tania agar bersiap-siap serta mengungkapkan apa yang dilihatnya tadi di rumah Ufa.

Tania dan Ega segera besiap-siap. Ketika melihat sedan hitam keluar dari gang satu-satunya dari rumah Ufa, mereka langsung tancap gas dan mengikuti mobil tersebut.

Mobil sedan itu menyusuri jalan-jalan ramai, melewati mall-mall, melewati jalan-jalan yang penuh dengan lampu malam, dan sepertinya mereka akan pergi ke tempat yang ramai pula. Tania dan Ega tidak terlalu dekat ketika mengikuti mobil tersebut, itu dilakukan supaya mereka tidak curiga. Sesekali Tania juga menelepon Raffi agar bersiap-siap. Mereka juga penasaran, kemana tujuan Ufa dan Om itu sebenarnya.

Tidak sampai setengah jam, mobil itu berbelok ke suatu tempat. Dari kejauhan, tampak tempat nya cukup mewah, berbentuk seperti bangunan Eropa. Jika melewati pintu masuk, langsung dihadapkan sebuah kolam yang besar, dan pengunjung berjalan di jembatan di atas kolam tersebut. Suasana damai walaupun banyak juga pengunjung yang datang. Restorannya pun cukup besar dan luas. Sepertinya orang-orang yang berada di tempat tersebut adalah orang-orang yang berduit. Di atas bangunan itu tertampang tulisan “Green Hall Restaurant”.

“Waw !! Green Hall Restaurant? Ini kan restoran mewah !! Ngapain mereka ke sini??! ”, seru Tania.

“Gila ! Bener-bener gila. Hey, mending kamu langsung kabarin Raffi deh! Suruh dia langsung ke sini. Pasti cepat, rumah dia kan juga nggak jauh dari sini.”

Tania pun menghubungi Raffi dimana tempat mereka sekarang. Lima belas menit kemudian, Raffi datang dengan motor Ninja hitam nya. Tak lupa handycam kecil di sakunya. Raffi memang pantas bila masuk ke restoran ini, dia kan paling kaya diantara teman-teman yang lain.

Raffi memasuki restoran itu, dia memilih tempat agak pojok dan agak ramai agar dia bisa leluasa memata-matai Ufa dan agar tidak terlihat jika sewaktu-waktu Ufa melihatnya. Raffi hanya memesan Cappucino hangat, dan pesanannya tak lama pun datang. Raffi terlihat kaget, orang yang membawakan minuman itu dan mengucapkan “Selamat menikmati” mirip sekali dengan Ufa. Raffi tidak dapat melihat dengan jelas, karena ia memakai topi dan kaca mata hitam dan ia pura-pura membaca pesan dari handphone nya.

Ketika perempuan itu pergi, Raffi langsung melihat ke sekeliling, dan matanya tertuju di antara waiterss yang semua berseragam ungu. Raffi melihat perempuan yang mirip dengan Ufa di antara mereka yang entah membicarakan apa. Perempuan itu lalu menuju ke dapur, Raffi mengikuti dan mengintip dari jauh. Tak lama perempuan itu membawa makanan untuk diantarkan di meja yang paling ujung. Raffi terus mengikuti dan mengamati wajah perempuan itu, kali ini dia benar-benar yakin kalau perempuan itu adalah Ufa. Segera saja ia mengeluarkan handycam kecilnya dan merekam perempuan itu serta berusaha agar tidak ada orang yang curiga. Setelah selesai, Raffi langsung keluar dari restoran itu dan menaiki motornya menuju mobil Ega. Tetapi sebelumnya dia menerima telpon dari mamanya.

“Hey, aku lihat Ufa. Nih, uda aku rekam. Eh, aku langsung cabut ya. Tadi mamaku telpon, ngabarin kalau nenekku masuk Rumah Sakit, penyakitnya kambuh. Daaaa…. ”, terang Raffi tanpa membiarkan Tania dan Ega yang belum sempat bicara dan terbengong-bengong. Raffi lupa memberikan handycamnya.

“Nyebelin banget sih, Raffi. Dia belum ngasih kita handycam nya. Dasar! “ kesal Tania.

“Iya nih. Ya sudahlah, mending kita langsung ke rumahmu buat kumpul. Karin dan Riski kabarin,gih !” suruh Ega.

Mereka berkumpul di rumah Tania saat itu juga. Mereka membicarakan apa saja kejadian dari rumahnya sampai ke restoran tadi. Raffi tidak datang, jadi dia tidak bisa memberi tahu apa yang terjadi di restoran.

“Feelingku,nih. Sepertinya Ufa ada apa-apa deh dengan om itu.”, ujar Tania.

“Hush! Jangan su’udzon dulu. Dia kan sahabat kita, dan kita juga nggak tahu kan apa yang terjadi di restoran. Andai saja Raffi bisa datang ke sini”, celah Rizki.

“Tapi anehnya, Ufa tadi pakai rok mini gitu. Dandannya juga beda. Benar-benar aneh. Aku juga sempat mikir apa yang dipikir Tania ”, Karin menimpali.

“Mending hari Senin kita minta keterangan dari dia di sekolah”, saran Ega.

Hari Senin pun tiba. Entah mengapa Tania dan Karin jadi sedikit menjaga jarak dengan Ufa. Mereka masih merasa kalau Ufa ada apa-apa dengan om itu. Raffi pun tidak masuk sekolah, sehingga mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tiap kali Ufa berbicara kepada mereka, mereka sama sekali tidak ada yang menjawab. Ufa juga merasa ada yang aneh dengan dua sahabatnya itu. Kejadian itu berlangsung sampai pulang sekolah.

“Tania! Karin! Kalian kenapa? Kalian marah sama aku? Aku salah apa? Kenapa dari tadi pagi kalian nggak mau berbicara denganku?”, Tanya ufa sambil terengah-engah setelah mengejar mereka dari gerbang sekolah.

Semula Tania dan Karin diam, kemudian Karin angkat bicara, “Heh, Ufa ! Kita semua udah tahu alasan kenapa kamu nggak mau kumpul bareng kita tiap malam minggu. Kamu enak-anakan pergi sama Om itu yang kita nggak tahu. Kita kemarin lihat kamu ke restoran sama Om itu!”

Ufa kaget, matanya langsung berkaca-kaca. “Kalian salah paham! Aku nggak seperti itu! Kalian nggak tahu yang sebenarnya!”

“Salah paham gimana? Kita lihat sendiri, kok! Kita mata-matain kamu! Dan kita nggak mau bicara sama kamu! Ayo, Rin, kita pulang saja”, Tania ikut emosi.

Ufa menangis sepanjang jalan. Tak mengira sahabat-sahabatnya berbuat seperti itu. Saat itulah Raffi melihat Ufa berjalan di trotoar sambil menangis. Raffi langsung meyimpulkan kalau ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu dan ini semua ada hubungannya dengan kejadian hari Sabtu malam. Seketika itu juga Raffi menelepon semua teman-temannya untuk berkumpul di rumahnya dan membahas tentang Ufa.

Setelah semua berkumpul, Raffi memperlihatkan hasil rekaman di hnadycamnya saat di restoran. “Aku tahu apa yang terjadi. Kalian kan yang membuat Ufa menagis sepulang sekolah tadi? Nih, lihat saja sendiri!”

Semua kaget dan tak mengira jika Ufa menjadi pelayan di Restoran itu. Ufa anak orang kaya, orang tuanya bekerja di perusahaan swasta, lalu mengapa ia bekerja di restoran ?

“Astaga! Kita semua sudah salah paham. Kita sudah mengira dia yang bukan-bukan. Tapi mengapa dia harus kerja di restoran? Lalu siapa orang laki-laki itu?”, sesal Tania sambil bertanya-tanya.

Karin ikut menyesal, “Terutama kita, Tania. Kita yang membut dia menangis. Kita nggak memberi dia kesempatan menjelaskan kepada kita”.

“Mending kita semua ke rumah Ufa”, Ega dan Rizki ikut bicara.

Mereka pergi ke rumah Ufa. Ketika Ufa membukakan pintu, dia tampak kaget untuk apa teman-temannya datang ke rumahnya. Wajah Ufa masih sembab, mata dan hidungnya terlihat merah akibat menangis berjam-jam.

“Ufa. Kita semua meminta maaf. Kita sudah memata-matai kamu malam itu. Kita juga sudah menuduh kamu yang bukan-bukan. Tapi kita melakukan itu karena kita penasaran kenapa kamu selalu ngehindar dari kita tiap malam minggu.”, ungkap Tania penuh dengan hati-hati.

Dengan suara yang masih serak, Ufa mengungkapkan ,“Perusahaan tempat ayahku bekerja bangkrut, dan ayah dan ibuku diberhentikan. Aku sengaja nggak cerita sama kalian, aku nggak ingin merepotkan kalian. Selama ini kalian sudah baik padaku, selalu membantuku. Tentang restoran, aku memang bekerja di sana tetapi hanya sabtu malam saja, karena memang hanya hari Sabtu aku bisa bekerja. Tentang laki-laki yang mengantarku, itu adalah Om ku, adik ayah. Semua biaya sekolahku ditanggunggnya sampai ayah dapat pekerjaan lagi. Sedangkan restoran itu adalah miliknya. Walaupun hidupku di biayai Om, tetapi aku nggak mau kalau hanya sekedar menumpang dan Om membolehkanku bekerja di restorannya. Itu juga yang membuatku selalu telat di hari Sabtu, karena setiap pagi-pagi aku harus absen dulu di restoran supaya gajiku nggak dikurangi”.

Semua terdiam mendengar cerita Ufa. Kemudian Riski berujar sambil melirik Tania dan Karin “Tukaaan… Apa aku bilang.. Jangan suka menuduh dulu yang bukan-bukan”.

“Iya. Kita meminta maaf ya, Fa. Kita memang sudah jahat kepadamu”, sesal Karin.

“Nggak pa-pa. Ini juga salahku. Aku nggak cerita masalahku pada kalian. Aku maklum jika kalian salah paham.”

“Nah. Sudah selesai kan masalahnya? Aku juga minta maaf kalau aku telat ngasih handycamnya. Peace….”, cengir Raffi.

“Dasar kamu, Raf. Kamu juga yang bikin kita penasaran”, Ega menimpali sambil tertawa.

“Oh jadi kalian mata-matain aku sampai segitunya, ya? Wah jadi terharu. Aku jadi nangis lagi, nih”, canda Ufa sambil pura-pura menagis.

Semua tertawa, lalu seperti biasa yang mereka lakukan, “Berpelukaaaaaaaaaaaaaaann….”

Hal yang gelap menjadi terang kembali. Menjadi sesuatu yang bermakna untuk mereka bahwa persahabatan akan lebih indah jika saling terbuka dan saling percaya. Itulah yang membuat dewasa dan hidup lebih bermakna.

 
You are here: Home Cerpen Siswa CERITA HARI SABTU [Disa Amorahajeng/X-6/12]

Buku Sekolah Elektronik

Download gratis buku sekolah elektronik. Selengkapnya di bse-diknas.com

OSIS SMA 2 Pati

Ingin tahu kegiatan OSIS SMA 2 Pati, disini tempatnya.

SMA 2 Pati On NING

Ingin mencari teman lama anda di SMA 2 Pati? SMA 2 Pati On Ning jawabannya

Konten terakhir

Konten terpopuler